Senin, 24 Januari 2011

Mengapa Saya Memilih Jurusan Antropologi Sosial ?


Sebenarnya waktu pertama kali memilih antropologi sebagai opsi pertama pada form pendaftaran SNMPTN, saya belum memiliki gambaran yang benar tentang keilmuan antropologi itu sendiri. Saya mengetahui antropologi dengan membaca penjelasan bahwa ilmu tersebut mempelajari manusia dan kebudayaannya, waktu itu dalam otak saya langsung terbayang akan hal-hal yang berbau tradisi dalam konteks seni budaya. Hal tersebut wajar menurut saya, karena latar belakang sewaktu di SMA saya belajar di jurusan IPA dan kurang mengenal pelajaran teman-teman yang IPS. 

Mungkin menjadi pertanyaan juga, mengapa saya “membelot” dari jurusan IPA ?. Hal ini ternyata disebabkan karena pada saat itu muncul suatu kesadaran dari diri saya sendiri, bahwa menurut saya ilmu sosial lebih menarik dibandingkan ilmu IPA. Kesadaran itu sendiri muncul dari suatu anggapan bahwasanya saya tiada berbakat di bidang eksak, dan lebih merasa bakat saya berkembang di bidang sosial. Hal ini memang dibuktikan dengan keaktifan saya dalam berbagai pelajaran IPS sejak SD. Kemudian bakat sosial saya juga terlihat dari keaktifan saya di berbagai organisasi intra dan ekstra sekolah. Keaktifan berorganisasi itu sendiri telah saya mulai semenjak duduk di sekolah dasar.

Setelah lulus SMA, berbekal sebuah ketetapan hati untuk memilih ilmu sosial sebagai jalan hidup, saya mulai mencari informasi tentang ilmu-ilmu sosial yang bagus untuk menjadi pilihan di SNMPTN. Pada waktu itu, sempat saya berkeinginan memillih jurusan high level di ilmu sosial, seperti contoh Ilmu Manajemen, Ilmu Pemerintahan, Ilmu Hukum atau yang lainnya. Akan tetapi pikiran tersebut saya undurkan kembali ketika menyadari bahwa saya tak berbekal ilmu apa-apa tentang jurusan tersebut. satu hal lagi yang membuat saya tidak mau mengambil resiko besar, saat itu saya tidak mengikuti bimbingan belajar apapun, persiapan SNMPTN saya jalani dengan belajar di rumah saja, sehingga saya kurang merasa percaya diri untuk mengambil sesuatu yang beresiko. 


Kemudian saya beralih pada opsi yang lebih masuk akal. Dalam daftar jurusan, saya menemukan beberapa jurusan ilmu sosial dengan pasinggred yang masuk akal untuk saya lulus di sana. Salah satunya adalah jurusan Antropologi Sosial. Sebagaimana yang dijelaskan di awal tulisan ini, ketertarikan pada jurusan ini lebih pada kajiannya tentang kebudayaan yang menarik menurut saya. Akhirnya, entah mengapa, dengan keyakinan penuh, saya memilih antropologi sebagai disiplin ilmu yang akan saya dalami untuk masa depan saya. 
Selanjutnya saya mulai memilah unversitas-universitas yang memunyai jurusan antropologi. Akhirnya saya menemukan 13 Universitas Negeri di Indonesia yang memiliki jurusan Antropologi. Ada hal yang menarik katika saya memilih di mana saya akan berkuliah. Pada saat itu, dalam pikiran saya, Universitas Sumatera Utara menjadi sesuatu yang sangat menggoda saya untuk berkuliah di sana. Bukan karena apa-apa, hanya saja krna kebetulan memang berdomisili di medan pada saaat itu.. hingga tepat pengumunan, saya di  nyatkan lulus.. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar