Kamis, 27 Januari 2011

FILSAFAT ILMU

Filsafat ilmu 
adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu[1]. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

Konsep dan pernyataan ilmiah

Ilmu berusaha menjelaskan tentang apa dan bagaimana alam sebenarnya dan bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di alam. Untuk tujuan ini, ilmu menggunakan bukti dari eksperimen, deduksi logis serta pemikiran rasional untuk mengamati alam dan individual di dalam suatu masyarakat. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/bf/Button_pagename.png

Empirisme

Salah satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu adalah empirisme, atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan atau pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.

Falsifiabilitas

Salah satu cara yang digunakan untuk membedakan antara ilmu dan bukan ilmu adalah konsep falsifiabilitas. Konsep ini digagas oleh Karl Popper pada tahun 1919-20 dan kemudian dikembangkan lagi pada tahun 1960-an. Prinsip dasar dari konsep ini adalah, sebuah pernyataan ilmiah harus memiliki metode yang jelas yang dapat digunakan untuk membantah atau menguji teori tersebut. Misalkan dengan mendefinisikan kejadian atau fenomena apa yang tidak mungkin terjadi jika pernyataan ilmiah tersebut memang benar.

Selasa, 25 Januari 2011

MPS 1


PARADIGMA PENELITIAN SOSIAL
K. B. Primasanti
Pada pohon pengetahuan ilmiah digambarkan bahwa posisi tertinggi dari susunan proses ilmu pengetahuan ditempati oleh ‘paradigma’. Sama ketika kita berjalan di bawah hujan, kita menggunakan payung untuk melindungi tubuh dan aktivitas kita demikian pula dalam penelitian, paradigma dianggap sebagai payung dari suatu kerja penelitian. Melalui sebuah paradigma, peneliti akan dapat memutuskan apakah penelitian yang akan dilakukan kuantitatif atau kualitatif. Namun, sebelum menentukan paradigma, peneliti hendaknya melihat ontology, yakni hakikat fenomena, dari objek yang diteliti. Apakah fenomena tersebut dipandang sebagai realitas tunggal atau realitas ganda. Realitas tunggal memisahkan satu fenomena dari realitas lain sehingga masing-masing dapat diteliti. Sedangkan realitas ganda maka realitas itu tidak bisa dibagi-bagi menjadi bagian yang terpisah satu dengan lainnya. Yang pertama dapat dilakukan menggunakan logika positivistik; sedangkan yang ke dua dapat dilakukan dengan logika fenomenologis (Kasiram, 2008: 125). Dari sisi pendekatan epistemologi, ragam pengetahuan yang kemudian menjadi paradigma dapat dibedakan melalui: ide-ide yang abstrak, benda fisik, jasad hidup, gejala ruhani, persistiwa sosial dan proses tanda. Kasmiran (2008: 126) merangkumnya dalam tabel berikut: Materi ilmu/ Pdkt Epistemologis Ide Abstrak Benda Fisik Jasad Hidup Gejala Rohani Peristiwa sosial Proses tanda Rasionalisme x x x Empirisme x x Rasionalisme Kristis x x x x x Positivisme x x x x x Konstruktivisme x x x x Fenomenologis x x x Pragmatisme x x x x x Historisme x x Objektivisme problem solving x x x x Hermeneutik x x Rahayu memilih mendefinisikan paradigma sebagai “ . . . a set of basic beliefs (or metaphysics) that deals with ultimate or first principles . . . a world view that defines, for its holder, the nature of the ‘world’ . . .” (Guba, dalam Denzin dan Lincoln, 1994; hal. 107). Guba dan Lincoln (1994) mengajukan tipologi yang mencakup 4 (empat) paradigma: Positivism, Postpositivism, Critical Theories et al., dan Constructivism, masing-masing dengan implikasi metodologi tersendiri. Tetapi sejumlah ilmuwan sosial lain melihat positivism dan postpositivism bisa disatukan sebagai classical paradigm karena dalam prakteknya implikasi metodologi keduanya tidak jauh berbeda. Karena itu pula, untuk kepentingan mempermudah bahasan tentang implikasi metodologi dari suatu paradigma, maka teori-teori dan penelitian ilmiah komunikasi cukup dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) paradigma, yakni: 1. classical paradigm (yang mencakup positivism dan postpositivism), 2. critical paradigm, dan 3. constructivism paradigm. Untuk melihat perbedaan paradigmatik dalam penelitian, berikut ini disajikan tabel berdasarkan empat dimensi dalam metafisik: Item Positivism Postpositivism Critical Constructivism Ontology Naïve realism-real Reality but apprehendable Critical realism “real” reality but only imperfectly and probabilistically apprehendable Historical realism virtual reality shaped by social, political, cultural, economic, ethnic, and gender values, crystallized over time Relativism local and specific constructed realities Epistemology Dualist/ objectivist finding true Modified dualist/objectivist, critical tradition/ communit, findings probably true Transactional/ subjectivist, value mediated findings Transactional/ subjectivist, created findings Methodology Experimental/ manipulative, verification of hypotheses, chiefly quantitative methods Modified experimental/ manipulative, critical multiplism, falsification of hypotheses, may include qualitative methods Dialogic/ dialectical Hermeneutical/ dialectical Klasik Konstruktivisme Kritis Menempatkan ilmu sosial seperti halnya ilmu-ilmu alam dan fisika, dan sebagai metode yang terorganisir untuk mengkombinasikan deductive logic dengan pengamatan empiris, guna secara probabilistik menemukan — atau mem-peroleh konfirmasi tentang – hukum sebab-akibat yang bisa dipergunakan mem-prediksi pola-pola umum gejala sosial tertentu. Memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial dalam setting keseharian yang alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang ber-sangkutan menciptakan dan memelihara/mengelola dunia sosial mereka. Mendefinisikan ilmu sosial sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha meng-ungkap “the real structures” dibalik ilusi, false needs, yang dinampakkan dunia materi, dengan tujuan membantu membentuk suatu kesadaran sosial agar memperbaiki dan merobah kondisi kehidupan manusia Perbedaan antar paradigma juga bisa dibahas dari 4 (empat) dimensi, yakni: 1. Epistemologis, yang antara lain menyangkut asumsi mengenai hubungan antara peneliti dan yang diteliti dalam proses untuk memperoleh pengetahuan mengenai objek yang diteliti. Kesemuanya menyangkut teori pengetahuan (theory of knowledge) yang melekat dalam perspektif teori dan metodologi. 2. Ontologis, yang berkaitan dengan asumsi mengenai objek atau realitas sosial yang diteliti. 3. Metodologis, yang berisi asumsi-asumsi mengenai bagaimana cara memperoleh pengetahuan mengenai suatu objek pengetahuan. 4. Aksiologis, yang berkaitan dengan posisi value judgments, etika, dan pilihan moral peneliti dalam suatu penelitian. Paradigma positivism menganggap realitas itu sebagai sesuatu yang empiris atau benar-benar nyata dan dapat diobservasi. Dalam meneliti, peneliti dan obyek yang diteliti bersifat independen dan saling tidak berinteraksi. Cara menelitinya bisa dengan percobaan atau manipulasi sehingga dapat dikontrol obyektivitasnya. Paradigma Post Positivisme melihat realitas sebagai sesuatu yang tidak dapat diindera secara sempurna, hanya kemungkinan karena kelemahan manusia dan faktor lingkungan yang selalu berubah. Paradigma ini mensyaratkan keterlibatan subjektif dari peneliti untuk memudahkan memahami realitas subjektif sedekat mungkin. Paradigma konstruktivis menganggap kenyataan itu hanya bisa dipahami daam bentuk jamak, berupa konstruksi mental yang tidak dapat diindera. Berbasis sosial dan pengalaman yang bersifat lokal dan spesifik. Peneliti dan subjek peneliti terkait erat secara timbal balik sehingga penemuan dicipta seperti yang dikehendaki peneliti. Cara penelitian ini menggunakan teknik hermeneutic dan dibandingkan serta dilawankan dengan melalui tukar menukar bahasa daerah, sehingga terjaring konstruksi consensus yang lebih jelas. Sementara, paradigma kritis menganggap realitas sebagai kenyataan sejarah, terjadi pada masa lampau dan dibentuk oleh sekumpulan faktor: sosial, politik, ekonomi, budaya yang mengkristal dalam sejumlah struktur sebagai kenyataan alamiah dan tidak berubah. Peneliti dan yang diteliti dianggap berkaitan eraat timbale balik dan penilaian peneliti tidak dapat dielakkan mempengaruhi penemuan. Cara menelitinya dengan cara dialog antara peneliti dengan menggunakan bahasa yang saling dimengerti. Ke empat paradigma ini dapat digolongkan menjadi dua paradigma besar, yakni: paradigma ilmiah dan paradigma alamiah. Paradigma ilmiah bersumber pada positivistik; sedangkan paradigma alamiah bersumber pada fenomenologis. Sumber: Kasiram. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif. Malang: UIN-Malang Press. Rahayu. Diktat Mata Kuliah Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM.
PERSOALAN SOSIAL
K. B. Primasanti
Masalah sosial di sekitar kehidupan manusia sangat banyak dan beragam. Bahkan, setiap detik, berita melalui media menyiarkan persoalan sosial yang berbeda. Namun, memilih masalah sosial yang hendak diteliti adalah persoalan lain. Ada beberapa syarat untuk seorang peneliti mengangkat sebuah masalah sosial dalam kelayakan penelitian, yakni: berkaitan dengan teori atau praktik, peneliti memiliki pengetahuan yang memadai mengenai persoalan tersebut, dan ketrampilan perumusan masalah dalam penelitian. Untuk memenuhi kriteria ini, peneliti hendaknya terlebih dahulu memahami beberapa hal mengenai masalah penelitian, misalnya: definisi masalah penelitian, topik penelitian, sumber topik dan masalah penelitian, motivasi memilih masalah penelitian, pertimbangan memilih masalah penelitian, perumusan masalah, tipe masalah (deskriptif, korelasional, kausal, komparatif, multivariat. Dalam bab ini kita akan membahas beberapa hal tersebut.
Definisi Masalah Penelitian
Sekelompok masyarakat dari Desa Sukatani mengharapkan kesuksesan berkali-kali lipat ketika melakukan program transmigrasi. Namun, setelah lima tahun, mereka belum juga merasakan dampak dari transmigrasi seperti yang dijanjikan oleh pemerintah. Beberapa warga mendatangi kantor transmigrasi untuk berdemo. Dari cerita ini, ada ketidaksesuaian antara apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Silalahi (2009) menyebut masalah sebagai kondisi tidak sesuainya sesuatu yang ideal dengan aktualitasnya. Inilah yang disebut masalah. Namun, tidak semua masalah dapat dapat diteliti menggunakan metode penelitian sosial. Untuk menentukan sebuah masalah dapat diteliti dengan metode penelitian sosial maka perlu dipahami terlebih dahulu mengenai topic penelitian.

Topik Penelitian
Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menggantikan istilah topik penelitian, misalnya: Focus study, research topic, research ideas, research issue, research problem. Topik penelitian adalah konsep utama yang dibahas dalam penelitian. Misalnya: anak jalanan, perceraian, pendidikan, dll. Topik penelitian konsep dari masalah penelitian yang dipikirkan peneliti. Topik menelitian hendaknya memiliki definisi baik secara formal maupun material. Merumuskan topik penelitian berfungsi untuk mengisi kekosongan penelitian. Misalnya, akhir-akhir ini marak disiarkan berita mengenai kelompok ‘bonek’ atau ‘bondo nekat’ namun belum ada satu kajian pun yang membahasnya. Maka, perumusan topik mengenai ‘bonek’ ini berguna untuk mengisi kekosongan penelitian. Selanjutnya, topik penelitian juga dimaksudkan untuk replikasi, atau mengulang meneliti topik yang pernah diteliti sebelumnya, memperluas, dan mengembangkan ide-ide baru. Sebuah topik penelitian yang baik memenuhi kriteria sebagai berikut: Researchable (dapat diteliti, waktu tertentu, sumber, data?), topic menarik perhatian pribadi peneliti, berguna secara teoritis, mungkin untuk diterbitkan, memiliki tujuan praktis. Silalahi, Ulber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama


hari ke 2 kerja

mlm ne kembali aq dihadapkan dgan komputer, user dan catatn kecil..
tpi aq sudah mulai mngerti ttng prosedur yng ada, kecanggungan mulai menipios dari dalm jiwa..
tpi ttp kehati-hatian merenggut jiwa...
mlm ni aq jg tersadr bahwa tak ada arti sebuah kesiapan tnpa kletelitian,, semuanya q nikati malam kedua ini dngn senyum kecil yg menyelip di bibir tebal aq..


mungkn jika aq bsa mnggungkakn rasa yg aq rasa.. aq cuma bia bilng klo aq nyaman n cukup senang..
tpi terkadngn masiha da rasa takut dalm benak aq, 


bagaimna aq bisa jalani ne terus-menerus..dan bagaimna jika ma² aq btw semua ini, terkadng tu yg aq khwatir kan... tpi semua nya q jalni dngn penuh keyakina klo aq masih ttp bisa... 
aq sknrng mendaptkn taktik baru dalm bekerja.. disamping aq bekerja, aq sempatkan juga buat belajar materi kuliah yg akan di sampaikan besoknya dikampus.. rasa ku suatu caara yng sangat efektif, apalgi aq dapt sumber langsung dari internet, lebih memudahkan aq dalm memahami mata kliah yag akan di ajarkan..


mungkin ini lah jawabn dari semua gelisah dan kesusahn yg aq pikul selama ini.. tuhan ttep baik


aq ttp menunggu keajaiban lgi di hari berikutnya

Teori Antropologi I

Masalah asal mula dan evolusi manusia
            Dalam teorinya tentang asal manusia Charles Darwin menyatakan bahwa semua bentuk mahluk hidup dan jenis mahluk yang kini ada didunia dipengaruhi oleh berbagai macam proses alamiah, berevolusi, dan berkembang sangat lambat dari bentuk-bentuk yang sangat sederhana (mahluk sel satu) menjadi beberapa jenis baru yang lebih kompleks. Mahluk-mahluk jenis baru itu masing-masing berevolusi juga menjadi jenis-jenis baru yang bertambah kompleks lagi, dan demikian seterusnya hingga dalam jangka waktu beratus-ratus juta tahun terjadilah jenis mahluk yang paling kompleks seperti kera dan manusia.
            Teori ini merupakan salah satu dari teori antropologi yang paling menarik perhatian saya karena teori ini memberikan suatu jawaban tentang asal-usul dan evolusi manusia dan sekaligus juga menimbulkan berbagai pertanyaan dalam diri saya yaitu mengenai apakah evolusi pada manusia dan mahluk hidup itu masih berlanjut atau sudah berakhir, apabila evolusi itu sudah berakhir apakah kondisi yang terjadi pada manusia pada saat ini merupakan bagian dari evolusi atau tidak. Jika yang terjadi dengan kondisi manusia saat ini bukan merupakan bagian dari evolusi apakah ini berarti bahwasanya evolusi itu sudah berakhir pada satu titik tertentu.


Teori-teori mengenai azas Religi
            Dalam teori ini dipaparkan mengenai bagaimana religi itu timbul dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat. Menurut teori tentang azas religi, religi itu timbul karena ada berbagai sebab diantaranya karena adanya rasa takut, heran dan takjub akan adanya kekuatan dahsyat diluar diri manusia yang mereka dapati ketika mereka tidur dan bermimpi, dan sebagai fungsi social untuk mengintensifkan solidaritas kelompok dalam masyarakat.
            Dengan melihat berbagai teori yang ada tentang timbulnya suatu religi itu saya mempunyai suatu pendapat tentang mengapa ada orang yang percaya dan tidak percaya terhadap agama. Adapun yang menyebabkan adanya orang yang tidak mempercayai agama/mau beribadah dan tidak adalah karena pada dasarnya dia beranggapan bahwa agama itu mempunyai tujuan untuk menciptakan keamanan dan kentetraman dalam kehidupan manusia, sehingga yang menentukan rasa tenteram dan aman dalam hidup  itu bukan agama A atau agama B melainkan diri manusia itu sendiri dalam kehidupan sosialnya. Sehingga dalam hal ini agama hanya sebagai pemberi arah dan petunjuk tentang bagaimana bersikap dan bertindak dalam dalam kehidupan masyarakat untuk mencapai keselamatan didalam hidup.

Konsep Kruyt tentang Animesme dan Spiritisme
            Kruyt dalam teorinya menuturkan bahwa manusia pada zaman kuno itu percaya tentang adanya suatu zat halus yang memberi kekuatan hidup dan gerak kepada banyak hal dialam semesta ini. Oleh Kruyt zat halus ini terutama terdapat didalam beberapa bagian tubuh manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, tetapi seringkali juga dalam benda. Menurut Kruyt bagian tubuh manusia yang banyak mengandung zielestof adalah : kepala, rambut, kuku, isi perut, pusat, gigi, ludah, keringat dan air mata. Orang dapat menambah zielostof-nya dengan makan dan minum zat-zat tertentu yang mengandung zielestof. Apakah kepercayaan terhadap adanya zilestof ini hanya berlaku pada masyarakat kuno zaman dulu?
            Dengan teori ini kita dapat membuat suatu asumsi bahwasanya kepercayaan terhadap adanya kekuatan gaib dalam suatu benda itu tidak hanya berlaku pada manusia zaman kuno namun pada manusia masa kini. Hal ini dapat kita lihat dari adanya orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan diluar kemampuan manusia biasa pada umumnya, seperti kemampuan untuk menyembuhkan orang sakit diluar medis atau dalam bahasa sehari-harinya disebut santet. Salah satu bukti nyata yang saya pernah ketahui tentang masih adanya kekuatan ini  adalah pada saat salah satu dari orang tua teman saya mengalami suatu penyakit yang aneh, saat itu kondisi orang tua teman ini sungguh sangat memprihatinkan hingga harus dibawa berobat kedokter. Namun setelah diperiksa, tidak ada  penyakit yang diderita oleh orangtua siteman hingga akhirnya salah satu dari keluarganya memberi saran untuk dibawa berobat kepada orang paham akan penyakit seperti ini. Setelah dibawa berobat tidak berselang lama kondisi orangtua siteman mulai membaik. Dan  menurut penuturan teman ini ketika orangtuanya tersebut diberi minum ramuan yang dibuat oleh orang yang paham akan penyakit tersebut dan didoakan, dari tubuh orang tuanya keluar rambut dan pasir. Lalu bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Hal ini merupakan suatu keadaan yang sulit untuk dijelaskan dengan  akal pikiran. Namun teori dari Kruyt ini memberi suatu pandangan bahwasanya didalam alam ini memang masih terdapat suatu hal yang masih belum dapat dijelaskan dengan akal pikiran manusia dan bahkan mungkin dengan kemampuan teknologi yang ada pada saat ini.
            Lalu bagaimana dengan kepercayaan terhadap adanya roh ini? Saya secara pribadi percaya akan adanya roh. Karena saya sendiri telah pernah mengalami akan adanya roh ini. Saya mengalami fenomena ini pada saat saya berada di kos dan pada saat mengikuti PKL I. Saat di kos saya mengetahuinya ketika teman saya membangunkan saya yang sedang tidur untuk mendengarkan ada tidaknya suara aneh dari luar kamar, ketika kami coba untuk mendengarkan dengan serius, kami mendengar adanya suara seorang wanita menangis dengan nada yang menyedihkan. Paginya kami coba untuk menanyakan ada tidaknya anak kos yang lain yang mendengar suara tersebut, namum tidak ada satupun yang mendengar suara tersebut. Namun yang mengalami hal seperti ini bukan hanya kami karena sebelumnya mereka juga sudah pernah mengalami kejadian yang sama seperti yang kami alami. Pengalaman kedua saya adalah ketika saya PKL didesa Sembahe, saat itu kami baru habis briefing bersama anak Karang Taruna setempat dan  malam sudah sangat larut. Pada saat akan istirahat, kira-kira jam 2 malam saya mendengar adanya suara seorang ibu yang menagis dan kira-kira beberapa menit kemudian disambung dengan tangisan bayi, saat itu saya sempat berpikir bahwa itu mungkin hanya tangisan biasa saja namun setelah saya coba untuk pikirkan dan pertimbangkan apa yang menyebabkan seorang wanita dan bayi malam-malam begini menangis dengan suara pilu begitu sementara disekitar jambur tempat kami tidur tidak  da sesuatu yang menyedihkan (asdos dengar juga nggak yah) . Jadi apa gerangan ini apa ini suara manusia atau….

Teori difusi Kebudayaan
            Mengenai gejala persamaan kebudayaan ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa persamaan dari kebudayaan itu disebabkan karena tingkat yang sama dipermukaan bumi, mungkin dalam hal ini yang dimaksud dengan persamaan adalah persamaan dalam hal berpikir, membuat suatu alat dan lain-lain. Selain pendapat diatas ada juga suatu pendapat yang menyatakan bahwa gejala persamaan unsur-unsur kebudayaan diberbagai tempat disebabkan karena persebaran atau difusi dari unsur-unsur itu ketempat/daerah lainnya. Persebaran ini dapat terjadi sebagai akibat dari aktifitas yang dilakukan oleh manusia, misalnya ketika beberapa orang berdagang kesuatu daerah dengan membawa alat-alat, barang hasil produksi local mereka. Sementara daerah yang didatangi tidak menolak produk kebudayaan yang dibawa oleh pendatang tadi maka dalam hal ini proses difusi telah terjadi dengan baik tanpa adanya suatu pemaksaan. Dan pada saat kebudayaan baru tersebut diterima oleh oleh masyarakat setempat maka proses akulturasi kebudayaan dapat berjalan dengan baik. Sebagai akibat dari akulturasi ini maka alat, produk dari hasil kebudayaan masyarakat pendatang juga turut diterima tanpa harus meninggalkan kebudayaan lama.
            Dengan mengacu pada teori difusi kebudayaan diatas, saya jadi teringat pada teman saya yang bersuku Karo. Pada saat itu kami  sedang berdebat tentang Karo itu masuk suku Batak atau merupakan suku diluar suku Batak, saat itu dia menyatakan bahwa mereka dalam hal ini Karo bukan merupakan orang Batak tetapi orang Karo. Kemudian saya menanggapi bahwa suku Karo itu masuk kedalam Suku Batak, namun dia tetap tidak mau menerima pendapat tersebut. Saya sendiri merasa bingung apakah memang orang Karo itu masuk suku Batak atau tidak, namun dengan melihat persamaan yang ada seperti adanya marga pada Batak Toba yang sama dengan marga orang Karo, adanya system kekerabatan yang sama,  saya memiliki suatu pendapat bahwasanya orang Karo itu masuk suku Batak dalam hal ini Batak Karo.
Konsep Kulturkreis dan kulturschieft dari Graebner
Methode der ethnologie, prosedur klasifikasi itu berjalan sbb:
1. Qualitats Kriterium
seorang peneliti mula-mula harus melihat ditempat-tempat dimana dimuka bumi terdapt unsure-unsur kebudayaan yang sama. Kesadaran akan persamaan itu dicapai dengan alas an pembandingan beberapa ciri-ciri, atau kualitas dari unsur tersebut.
2Quantitats Kriterium
Peneliti harus melihat apakah di A ada unsur-unsur lain yang sama dengn unsur-unsur lain di B dan C. maka alasan pembandingan berupa suatu jumlah banyak dari unsure kebudayaan ditempat tersebut.
3. Kulturkreis
Akhirnya peneliti mengolongkan ketiga tempat itu, yaitu A,B,C dimana terdapat ketiga kulturkomplex tadi menjadi satu, seolah-olah memasukkan ketiga tempat diatas peta bumi itu kedalam satu lingkaran.
Mazhab Schimidt
Schemidt berpendirian bahwa keyakinan aka nadanay satu Tuhan bukanlah suatu perkembangan yang termuda dalam sejarah kebudayaan manusia. Religi yang bersifat monotheismeitu malahan adalah bentuk yang sangat tua
Teori Difusi Rivers
Metode yang oleh Rivers kemudian diuraikan dalam karangan berjudul A Genealogical method of Anthropological Inquiry merupakan suatu metode yang kemudian akan menjadi metode pokok dalam sebagian besar penelitian antropologi yang berdasarkan field work.
Apabila seorang peneliti dating kepada suatu masyarakat maka sebagian besar dari bahan keterangannya akan diperolehnya dari para informan, dengan berbagai macam metode wawancara. Dengan demikian seorang peneliti harus mengumpulkan sebanyak mungkin daftar asal-usul individu-individu dalam masyarakat objek penelitiannya itu. Dengan engajukan pertanyaan-pertanyan mengenai kaum kerabat dan nenek moyang para individu tadi sebagai pangkal, seorang peneliti dapat mengembangkan uatu wawancara yang luas sekali, mengenai berbagai macamperistiwa yang menyangkut kaum kerabat dan nenek moyang tadi, dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat konkret.
Teori difusi Smith dan Perry
Mereka mengajukan bahwa dalam sejarah kebudayaan dunia pada zaman purbakala pernah terjadi suatu peristiwa difusi yang besar yang berpangkal dimesir, yang bergerak kearah timur dan yang meliputi jarak yang sangat jauh, yaitu kedaerah-daerah disekitar lautan tengah, ke Afrika, India, Indonesia, Polinesia dan Amerika. Teori ini sering disebut HeliolithicTheory


Senin, 24 Januari 2011

Mengapa Saya Memilih Jurusan Antropologi Sosial ?


Sebenarnya waktu pertama kali memilih antropologi sebagai opsi pertama pada form pendaftaran SNMPTN, saya belum memiliki gambaran yang benar tentang keilmuan antropologi itu sendiri. Saya mengetahui antropologi dengan membaca penjelasan bahwa ilmu tersebut mempelajari manusia dan kebudayaannya, waktu itu dalam otak saya langsung terbayang akan hal-hal yang berbau tradisi dalam konteks seni budaya. Hal tersebut wajar menurut saya, karena latar belakang sewaktu di SMA saya belajar di jurusan IPA dan kurang mengenal pelajaran teman-teman yang IPS. 

Mungkin menjadi pertanyaan juga, mengapa saya “membelot” dari jurusan IPA ?. Hal ini ternyata disebabkan karena pada saat itu muncul suatu kesadaran dari diri saya sendiri, bahwa menurut saya ilmu sosial lebih menarik dibandingkan ilmu IPA. Kesadaran itu sendiri muncul dari suatu anggapan bahwasanya saya tiada berbakat di bidang eksak, dan lebih merasa bakat saya berkembang di bidang sosial. Hal ini memang dibuktikan dengan keaktifan saya dalam berbagai pelajaran IPS sejak SD. Kemudian bakat sosial saya juga terlihat dari keaktifan saya di berbagai organisasi intra dan ekstra sekolah. Keaktifan berorganisasi itu sendiri telah saya mulai semenjak duduk di sekolah dasar.

Setelah lulus SMA, berbekal sebuah ketetapan hati untuk memilih ilmu sosial sebagai jalan hidup, saya mulai mencari informasi tentang ilmu-ilmu sosial yang bagus untuk menjadi pilihan di SNMPTN. Pada waktu itu, sempat saya berkeinginan memillih jurusan high level di ilmu sosial, seperti contoh Ilmu Manajemen, Ilmu Pemerintahan, Ilmu Hukum atau yang lainnya. Akan tetapi pikiran tersebut saya undurkan kembali ketika menyadari bahwa saya tak berbekal ilmu apa-apa tentang jurusan tersebut. satu hal lagi yang membuat saya tidak mau mengambil resiko besar, saat itu saya tidak mengikuti bimbingan belajar apapun, persiapan SNMPTN saya jalani dengan belajar di rumah saja, sehingga saya kurang merasa percaya diri untuk mengambil sesuatu yang beresiko. 


Kemudian saya beralih pada opsi yang lebih masuk akal. Dalam daftar jurusan, saya menemukan beberapa jurusan ilmu sosial dengan pasinggred yang masuk akal untuk saya lulus di sana. Salah satunya adalah jurusan Antropologi Sosial. Sebagaimana yang dijelaskan di awal tulisan ini, ketertarikan pada jurusan ini lebih pada kajiannya tentang kebudayaan yang menarik menurut saya. Akhirnya, entah mengapa, dengan keyakinan penuh, saya memilih antropologi sebagai disiplin ilmu yang akan saya dalami untuk masa depan saya. 
Selanjutnya saya mulai memilah unversitas-universitas yang memunyai jurusan antropologi. Akhirnya saya menemukan 13 Universitas Negeri di Indonesia yang memiliki jurusan Antropologi. Ada hal yang menarik katika saya memilih di mana saya akan berkuliah. Pada saat itu, dalam pikiran saya, Universitas Sumatera Utara menjadi sesuatu yang sangat menggoda saya untuk berkuliah di sana. Bukan karena apa-apa, hanya saja krna kebetulan memang berdomisili di medan pada saaat itu.. hingga tepat pengumunan, saya di  nyatkan lulus.. 

MERINDU

Ketika sang pekat malam mulai mencekam
naungan sang dewi malm mulai menawan
senyum sang bintang yang hiasi gelap nya mlm
memncarkan suatu ke arifan


tapi....
semua itu tak dapt q rasa
hnya bimbng dan tnya yng terselubung
sayatan kerinduan mulai membanjiri hati
ingin rasa nya sembuhkan rindu dngn mu
tpi hnya bingung yng da


sampai kapn rsa ini membiak dlm jiwa
sampai kapn hati ini ttp menyimpan rindu
aknkah tak ada balsan pasti
aknkah ttp begini hingga q tak berdya


q coba ti²p pda sang angin mlam
hnya bisikan suram yang kembli
q coba titp pda sang bintang
hya reduapn yang kembli


pakh rsa ini engau rsakan juga
apkah rsa ini adea dlm selangsa mu jg
cba lah jamah semu jiwa q
yg ada hny rindu pada mu

BEASISWA



PENGUMUMAN
BEASISWA PPA dan BBM


Sesuai dengan surat Pembantu Dekan III FISIP USU Nomor: 205/H5.2.1.9/KMS/2011 tanggal 20 Januari 2011 perihal Beasiswa PPA dan BBM kami sampaikan beberapa hal :
1. Mahasiswa Departemen Antropologi yang berminat dan memenuhi persyaratan untuk diajukan sebagai calon penerima Beasiswa PPA dan BBM, untuk mengisi formulir yang tersedia di Departemen.
2. Permohonan dan pengembalian formulir diterima paling lambat tanggal 7 Februari 2011.
3. Persyaratan untuk calon penerima beasiswa adalah :
a. Ekonomi orang tua kurang mampu dibuktikan dengan surat Lurah/Kepala Desa.
b. Belum tamat dan tidak DO s/d Desember 2011.
c. Program S1 Reguler Tahun Masuk : 2008;2009;2010.
d. Aktif dalam kegiatan kemahasiswaan (ekstrakurikuler)
e. Tidak sedang menerima beasiswa dari sumber lain
f. BBM untuk S1 reguler IPK ≥ 2.50
g. PPA utnuk S1 reguler IPK ≥ 3,00.
h. Mempunyai No. Rekening yang aktif di BNI Cabang USU

Demikian diumumkan.



Medan, 21 Januari 2011
Ketua Departemen,